Senin, 21 September 2015

Langkah Demi Langkah Saya dalam Memperoleh PTN


Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Lulus Sekolah Menengah Atas, mungkin itu adalah masa-masa paling galau yang dialami oleh seorang siswa atau anak remaja. Kuliah atau kerja? Sebuah pertanyaan klasik yang pasti ada di pikiran anak-anak zaman sekarang. Begitu juga dengan diri saya, setelah kelulusan sekolah hampir tiba, barulah saya mulai bingung, “Rencana ke depan setelah saya lulus mau ngapain?” Dan akhirnya saya memutuskan untuk lanjut kuliah sebelum bekerja. Karena saya berasumsi bahwa zaman sekarang kalau hanya lulus SMA/SMK itu tanggung sekali. Mungkin kalau jaman dulu kita sekolah sampai jenjang itu sudah dianggap “wah”, sudah bisa jadi guru atau pengajar, dan lain-lain. Tapi untuk zaman sekarang lulus SMA/SMK sudah menjadi hal yang wajar banget. Sudah rata-rata penduduk di desa saya sekarang sekolah sampai jenjang SMA/SMK. Jadi, pada akhirnya saya memutuskan untuk lanjut satu jenjang lagi yaitu ke perguruan tinggi.
            Saya berasal dari sebuah SMK negeri di Bantul yang bisa dikatakan masih baru, yaitu adalah SMK Negeri 1 Pajangan. SMK saya baru mulai beroperasi mulai tahun 2004/2005 dan saya adalah alumni angkatan ke-8 dari sekolah itu. Saya mengambil jurusan TI atau secara khususnya sering dipanggil Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
            Dulu mindset saya langsung tertuju pada PTN. Jadi saya beranggapan bahwa PTN itu lebih keren daripada PTS. Di PTN juga kita bisa lebih membantu orang tua karena biayanya yang relatif lebih murah daripada di PTS dan juga karena saya berasal dari keluarga kurang mampu. Terus terang saya waktu itu langsung tertuju pada PTN yang bergengsi yang ada di Jogja, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Step pertama, SNMPTN 2014
Dalam hati saya benar-benar ingin kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tetapi saya tidak mengerti jurusan apakah yang benar-benar cocok dengan saya? Saya waktu itu asal memilih saja jurusan yang lumayan bergengsi dan kuotanya diterimanya banyak, sehingga kiranya saya bisa masuk. Pilihan saya waktu itu :
  • Sastra Inggris UGM, saya memilih ini karena saya hobi saja dengan Bahasa Inggris dan kelihatannya bakal keren kalau saya kuliah di jurusan ini.
  •  Ilmu dan Industri Peternakan UGM, karena mayoritas orang-orang di daerah saya adalah peternak. Entah itu ayam petelur, ayam pedaging, sapi, kambing, dan sebagainya. Dan ayah saya juga suka memelihara ayam. 
  • Teknologi Pendidikan UNY, saya kurang mengerti sebenarnya jurusan apa ini. Saya hanya tertarik saja dengan namanya yang ada kata “teknologi” nya itu. Mungkin ini adalah semacam pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan. Dan juga karena berasal dari jurusan TI juga sih saya.
Waktu terus berjalan dan pengumuman SNMPTN 2014 tiba. Ternyata Allah menjawab lain, saya belum lolos masuk PTN kali ini. Lalu saya mendapat nasihat dari kakak kelas saya yang di UNY bahwa masih ada jalan yaitu dengan melalui seleksi tertulis SBMPTN 2014.

Step kedua, SBMPTN 2014
            Di SBMPTN ini sebenarnya saya sudah mempersiapkan untuk belajar sedikit demi sedikit bersamaan dengan persiapan UN 2014 mulai dari bulan Januari. Saya waktu itu hanya tergantung saja dengan sebuah buku Panduan SBMPTN yang saya beli. Buku itu berisi soal-soal SBMPTN dari tahun ke tahun yang saya simpulkan bahwa dari keseluruhan isinya hampir sama atau bisa dikatakan mirip. Tetapi tetap saya bingung, saya kaget sekali saat pertama kali melihat soal-soal itu. “Lah, soal apaan ini, tidak mudeng semua saya. Mungkin hanya anak-anak SMA ini yang bisa ngerjain?”, begitulah kata dalam hati saya. Akan tetapi saya berusaha belajar semampu saya dan semaksimal mungkin. Saya memutuskan untuk mengambil kelompok tes IPS/SOSHUM. Saya sebenarnya berasal dari anak SMK IPA soalnya jurusan saya TI/RPL, tetapi saya tidak percaya diri kalau mengambil IPA/SAINTEK, sehingga saya banting setir aja ke IPS soalnya pengalaman kakak kelas saya ada juga yang lolos di UNY yang mengambil IPS/SOSHUM. Pilihan saya waktu itu :
  • Manajemen Pendidikan UNY, saya kurang mengerti jurusan ini, dan saya juga kurang berbakat juga sepertinya jadi guru. Akan tetapi kakak kelas saya menyarankan bahwa saya akan bagus apabila memilih jurusan ini. 
  • Teknologi Pendidikan UNY, yang ini alasannya hampir sama waktu SNMPTN. 
  • Ilmu Sejarah, nah kalau yang ini saya memilih hanya buat pelarian saja soalnya kuotanya lumayan banyak yaitu diambil sekitar 30 dari 216 pendaftar (tahun 2013).
Waktu terus berjalan dan lagi mungkin belum rezeki saya, saya belum juga lolos di SBMPTN 2014.


Saya ‘down’ sekali waktu itu, lalu saya mendapat nasihat dan motivasi dari berbagai pihak, teman, kakak kelas, keluarga. Dan akhirnya saya berpikir bahwa mungkin tahun ini belumlah rezeki saya untuk lolos ke PTN. Soalnya kalau dari segi sarana dan prasarana saya belum punya bekal apapun, entah itu laptop, dana masuk pertama kali, dan yang lainnya. Sehingga saya memutuskan untuk kerja selama satu tahun dan menunggu SBMPTN tahun depan.

Step ketiga, kerja di CV. Optimis Sukses (Optimis Fotocopy)
            Awalnya saya kerja di sini atas ajakan teman saya karena sistem kerjanya enak. Di sini kerja dengan hitungan jam. Jadi kita datang absen jam berapa lalu pulang jam berapa. Jadi izinnya gampang kalau kita ada acara. Masalah gaji di sini bulanan, dari hasil jumlah absen tadi dikalikan gaji per jam. Bulan pertama kedua yaitu Rp 1.500,00, bulan ketiga keempat Rp 2.000,00, dan mulai bulan kelima sampai bulan kedua belas yaitu Rp 2.500,00. Untuk bulan pertama, gaji saya waktu itu hanya sekitar 500-an ribu saja soalnya saya kerjanya tidak full 1 bulan. Lalu mulai bulan ketiga gaji saya sudah mencapai sekitar 600-700 ribu. Dan bulan kelima sampai bulan selanjutnya gaji saya rata-rata mencapai sekitar 800 ribu. Pernah juga sampai 1 juta sekali waktu bulan Februari karena saya sering lembur. Saya bekerja di sini kira-kira 12 bulan.

Step keempat, SBMPTN 2015
            Sebelum SBMPTN 2015 tiba, saya sering nongkrong di situs belajar online Zenius Blog yaitu di alamat www.zenius.net. Di situ saya mendapatkan pelajaran bahwa, “Keputusan untuk menunda kuliah satu tahun itu adalah keputusan yang baik pula, soalnya kita bisa lebih memahami diri kita sendiri, mengoreksi kesalahan-kesalahan kita, dan menyiapkan strategi yang mantap untuk tahun depan.”
Dan akhirnya yang dinanti-nanti datang juga. SBMPTN 2015, saya waktu itu meyakinkan kepada diri saya bahwa “usaha dan kerja keras tidak akan mengkhianati kita”. Dan dengan penuh rasa deg-degan dan penuh harap saya mendaftar kembali dengan tetap memilih kelompok ujian SOSHUM tetapi di jurusan yang agak nyangkut-nyangkut di bidang TI :
  • Teknologi Pendidikan UNY, masih dengan alasan yang sama, tetapi saya lebih yakin masuk di jurusan yang ini karena setelah saya cek kurikulumnya ternyata memang banyak pelajaran TI-nya. Tapi tetap saja lebih banyak ke kependidikannya.
  • Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, sebenarnya saya kurang mengerti sih jurusan apa sebenarnya ini. Saya memilih ini atas saran dari teman saya yang kuliah di UIN bahwa jurusan ini itu bagus, cocok juga buat anak TI karena nanti bakal banyak belajar mata kuliah TI. Ya sudah akhirnya saya menaruhnya di pilihan kedua.
  • Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga, kembali ke alasan saya waktu SNMPTN 2014, akan tetapi ini bersifat pelarian karena saya taruh di pilihan ketiga.
Waktu terus berjalan, dan tiba juga hari di mana pengumuman yang akan menentukan nasib saya, masa depan saya dan juga perjuangan saya selama satu tahun ini bakal ditentuin sama pengumuman ini. Hari Kamis, Malam Jum’at, tanggal 9 Juli 2015, tepat setengah jam sebelum pengumuman dimulai yaitu pukul 16.30 saya pantengin terus website SBMPTN dan juga grup SBMPTN 2015 di Facebook. Semua anak-anak pejuang SBMPTN 2015 pada heboh pokoknya waktu itu. Detik terus berjalan, berganti menit, dan tiba juga jam 17.00. Akan tetapi apa yang saya dapat malahan script error di website SBMPTN. “Ya Allah, bagaimana ini?” Lalu pada waktu itu di tempat kerja saya sedang datang sebuah lemari/rak besar untuk menata barang dagangan seperti buku-buku dan alat tulis jadi saya memutuskan untuk menunda melihat pengumuman SBMPTN nanti setelah buka puasa/ maghrib.
Setekah habis maghrib, pelanggan malah berdatangan tiada henti dan hampir tiba waktu isya’ saya baru punya waktu untuk kembali melihat komputer. Lalu saya kembali membuka Web SBMPTN, saya memilih mengecek melalaui situs mirror-nya saja yaitu di alamat sbmptn.ugm.ac.id. Dengan penuh rasa deg-degan saya menuliskan nomor peserta SBMPTN, tanggal lahir dan juga captcha lalu saya membaca surat Al-Fatihah dan saya klik tombol ‘Lihat Hasil’. Dan apa yang saya lihat, sebuah tulisan berwana biru yang berbunyi :


            Ya Allah, saya bahagia sekali waktu itu. Saya langsung bersujud. Saya langsung bilang kepada Ibu saya yang punya toko tempat kerja dan menyalaminya. Lalu adzan isya’ tiba, saya langsung pulang dan bilang kepada kedua orang tua saya bahwa saya dinyatakan lulus SBMPTN 2015. Mereka sangat bangga, walaupun itu di pilihan kedua tapi mungkin ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan kepada saya. Saya yakin bahwa Allah lebih mengerti apa yang saya butuhkan daripada apa yang saya inginkan.

Step kelima, SM UTUL UNY 2015
            Sebelum pengumuman SBMPTN kemarin sebenarnya saya sempat ikut Seleksi Mandiri Ujian Tulis UNY buat jaga-jaga kalau tidak lolos SBMPTN. Saya mengambil pilihan:
  • Teknologi Pendidikan UNY, lagi-lagi alasan masih sama
  • Ilmu Komunikasi UNY, jurusan baru di UNY yang baru buka tahun 2014 kemarin akan tetapi teman saya sudah ada yang masuk di jurusan ini tahun kemarin dan bilang bahwa jurusannya sudah bagus. Di lain sisi saya juga agak tertarik dengan dunia pers/ jurnalistik.
Saya sangat berharap juga lolos di SM ini. Karena tahun ini mindset saya bahwa saya ingin sekali kuliah di UNY. Saya mempunyai angan-angan apabila SBMPTN saya lolos di UIN dan SM saya lolos di UNY saya akan ambil yang UNY. Akan tetapi waktu berkata lain, pengumuman SM yang harusnya tanggal 14 Juli (SBMPTN tanggal 9 Juli) diundur jadi 3 Agustus 2015. “Ya Allah, apakah saya memang ditakdirkan untuk kuliah di UIN bukan di UNY?”, dalam benak saya. Sehingga daftar ulang pun sudah selesai dan hari di mana pengumuman tiba. Saya mengecek kembali tetapi dengan perasaan yang penuh bingung, pokoknya campur-campur deh, antara berharap dan juga tidak. Dan benar bahwa saya dinyatakan lolos di pilihan pertama yaitu di FIP – Teknologi Pendidikan UNY.


Dan benar-benar pusing sekali saya waktu itu. “Ambil atau tidak ya, ambil atau tidak ya, kalau ambil nanti yang UIN bagaimana, sudah terlanjur daftar ulang, sudah bayar, sudah dapat KTM juga”, dalam pikiran saya. Kalau tidak, sayang banget sebenarnya, soalnya ini adalah pilihan pertama saya waktu SBMPTN dan benar-benar sudah di depan mata.
Setelah menyurvei, searching, tanya sama kakak kelas yang di UNY, di UIN dan mempertimbangkan matang-matang akhirnya saya membuat keputusan untuk tetap memilih yang UIN saja. Menurut saya, secara kampus memang menang yang UNY tetapi secara jurusan dan kenyamanan saya, saya nyaman yang di UIN. Dan saya juga telah menemukan "sense of wonder" saya di jurusan ini. Dan yang paling penting, secara riilnya juga UKT saya yang UNY Rp 3.145.000,00, mau bayar pakai apa itu? Yang UIN saja cuma Rp 1.100.000,00. Dan ironisnya uang saya sudah saya habiskan untuk daftar ulang di UIN, beli laptop, dan tinggal tersisa sedikit buat persiapan OSPEK. Ya sudah, mungkin ini sudah menjadi takdir buat saya.
Ya, begitulah kira-kira kurang lebih cerita saya dalam memperoleh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kita akan benar-benar mengerti manisnya kesuksesan apabila pernah merasakan pahitnya perjuangan. Sehingga akhirnya saya sekarang bisa menjadi bagian, menjadi mahasiswa di Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semoga ini adalah pilihan terbaik buat saya. Terima kasih banyak, apabila banyak salah kata dari saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Oh iya, semoga cerita saya ini juga dapat memotivasi teman-teman sekalian yang belum juga dapet PTN, dan memutuskan untuk menunda kuliah tahun depan. Tetep semangat kawan :) Akhirussalam...

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar